Konsep Pemikiran KHD Terhadap Pancasila Sebagai Identitas Bangsa Indonesia Dalam Perwujudan Profil Pelajar Pancasila Pada Pendidikan Abad-21

 Artikel

 

Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara Terhadap Pancasila Sebagai Identitas Bangsa Indonesia Dalam Perwujudan Profil Pelajar Pancasila Pada Pendidikan Abad-21

 Oleh : Juhari

        

 

 

Merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang berkompeten, mempunyai karakter, serta bersikap berdasarkan nilai-nilai budaya dan Pancasila. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara terpusat pada gagasan bahwa pendidikan harus merangkul aspek-aspek yang lebih luas dari pada sekadar pengetahuan akademis. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang mengisi pikiran dengan fakta dan angka, tetapi juga tentang membentuk karakter dan kemandirian. Visinya adalah untuk menciptakan masyarakat yang berbudaya, merdeka, dan berdaya saing tinggi

Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai sarana untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan, baik secara fisik maupun mental. Ia memiliki 3 semboyan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dukungan". Konsep ini menggaris bawahi pentingnya peran pendidik dalam membimbing peserta didik untuk menjadi agen perubahan yang aktif dalam masyarakat. Dapat ditekankan bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam konteks abad ke-21 mencakup tentang pendidikan inklusif, pembelajaran berbasis karakter, dan teknologi dalam pendidikan.

Sementara Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia ini memiliki ciri khusus yaitu hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kita untuk selalu menghayati Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia, serta perwujudan profil pelajar Pancasila pada pendidikan abad ke-21. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang terdiri dari lima sila atau prinsip dasar. Sebagai identitas bangsa, Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian bangsa Indonesia. Berikut beberapa aspek yang menjadikan Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia :

 

1.   Filosofi Dasar: Pancasila menggambarkan pandangan hidup bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah fondasi dari seluruh sistem hukum, politik, dan sosial di Indonesia.

 

2.   Pemersatu Bangsa: Indonesia adalah negara dengan keragaman suku, agama, ras, dan budaya. Pancasila berperan sebagai alat pemersatu yang mengikat seluruh elemen bangsa di bawah satu identitas yang sama.

 

3.   Pedoman Hidup Bermasyarakat: Pancasila menjadi pedoman dalam interaksi sosial masyarakat Indonesia. Nilai-nilai dalam Pancasila mendorong terciptanya masyarakat yang adil, beradab, dan harmonis.

 

4.  Dasar Negara: Pancasila menjadi dasar hukum bagi segala peraturan dan kebijakan yang dibuat di Indonesia. Setiap undang-undang dan kebijakan negara harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

 

5.  Citra di Mata Internasional: Pancasila juga memberikan citra positif bagi Indonesia di mata dunia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi, kemanusiaan, dan keadilan.

          Pemikiran Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia, memiliki relevansi yang kuat dengan pembelajaran abad 21. Bahkan menjadi landasan dalam pendidikan modern saat ini. Beberapa konsep utama pemikiran Ki Hajar Dewantara yang relevan dalam konteks pembelajaran abad 21 antara lain :

 1.   Pendidikan sebagai Pembebasan

      Dalam konteks abad 21, hal ini relevan dengan upaya mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri, mampu berpikir kritis, kreatif, dan dapat menyelesaikan masalah secara mandiri.

 2.  Prinsip "Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani"

Dalam konteks abad 21, prinsip ini tercermin dalam peran guru sebagai fasilitator pembelajaran, yang tidak hanya mengajar tetapi juga mendampingi dan mendukung siswa dalam proses pembelajaran aktif dan kolaboratif.

 3.  Pendidikan yang Berbasis pada Kebudayaan

     Dalam pembelajaran abad 21, hal ini dapat diimplementasikan dengan mengintegrasikan  nilai-nilai lokal dan kearifan budaya dalam kurikulum, serta mempromosikan identitas  dan jati diri bangsa dalam era globalisasi.

 4.  Tri Nga (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni)

    Konsep Tri Nga, yaitu pendidikan harus mampu membuat peserta didik mengerti    (kognitif), merasakan (afektif), dan melakukan (psikomotorik). Pembelajaran abad 21 menekankan pengembangan keterampilan ini, sejalan dengan tuntutan literasi digital, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.

 5.  Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa

    Dalam konteks abad 21, pendekatan ini sejalan dengan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), dan pendekatan lainnya yang menempatkan siswa sebagai pusat dari proses belajar.

 6.  Pendidikan Karakter

Dalam pembelajaran abad 21, pendidikan karakter menjadi komponen penting untuk membekali siswa dengan nilai-nilai integritas, tanggung jawab, dan etika dalam menghadapi tantangan global.

          Hal demikian sejalan dengan Profil pelajar Pancasila dalam pendidikan abad ke-21 dapat dirumuskan sebagai upaya untuk memastikan bahwa peserta didik dapat berkembang secara holistik. Keenam dimensi profil pelajar Pancasila, yaitu Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, Berakhlak Mulia, Berkhebinekaan global, Gotong Royong, Mandiri, Kreatif, dan Bernalar Kritis, menjadi panduan bagi peserta didik untuk tetap memiliki nilai-nilai luhur Pancasila.

         Pendidikan abad ke-21 menuntut adanya pengembangan kecakapan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kecakapan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill) menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global. Namun, perlu diingat bahwa pembelajaran abad ke-21, yang sering kali disebut dengan Kecakapan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking, and Creativity), harus senantiasa diperkaya dengan nilai-nilai Pancasila. Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi warga negara yang demokratis dan menjadi manusia yang unggul dan produktif di abad ke-21. Oleh karena itu, diharapkan pelajar Indonesia dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan dan tahan terhadap berbagai tantangan.

Pembelajaran abad ke-21 adalah pendekatan pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan dunia modern yang terus berubah dengan cepat. Berikut adalah beberapa aspek penting dari pembelajaran abad ke-21 :

 1.   Keterampilan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah

Peserta didik didorong untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, yang memungkinkan mereka mengevaluasi berbagai perspektif dan memecahkan masalah yang kompleks secara kreatif.

 2.   Kreativitas dan Inovasi

Peserta didik diberi kesempatan untuk mengeksplorasi ide-ide baru, melakukan eksperimen, dan berinovasi tanpa takut gagal. Proses pembelajaran ini membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk berpikir di luar kotak dan menghasilkan ide-ide yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

 3.   Kolaborasi dan Komunikasi

Peserta didik belajar untuk bekerja dalam tim, berkomunikasi secara efektif, dan memanfaatkan kekuatan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.

 4.   Penggunaan Teknologi

Peserta didik juga diajarkan untuk menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab, serta memahami dampak teknologi terhadap masyarakat.

 5.   Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) adalah metode yang digunakan untuk melibatkan siswa dalam proyek nyata yang relevan dengan kehidupan mereka.

 6.   Literasi Digital dan Informasi

Di era digital, literasi informasi menjadi salah satu keterampilan kunci. Peserta didik perlu memahami cara menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan efektif. Selain itu, literasi digital mengajarkan peserta didik tentang etika digital, keamanan online, dan penggunaan teknologi dengan bijaksana.

 7.   Pembelajaran yang Dipersonalisasi

Pembelajaran abad ke-21 berfokus pada pendekatan yang dipersonalisasi, di mana guru berusaha untuk memenuhi kebutuhan individu peserta didik. Ini dapat mencakup penggunaan teknologi adaptif, penugasan yang disesuaikan, dan dukungan tambahan untuk membantu setiap peserta didik mencapai potensi maksimalnya.

 8.   Kewirausahaan

Peserta didik didorong untuk mengembangkan mentalitas wirausaha, yang mencakup kemampuan untuk melihat peluang, mengambil inisiatif, dan mengelola risiko. Pembelajaran ini membantu peserta didik mempersiapkan diri untuk menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari pekerjaan.

 9.   Kecakapan Hidup dan Kesadaran Global

Peserta didik diajarkan untuk memahami isu-isu global, menghargai keragaman budaya, dan berkontribusi secara positif terhadap masyarakat.

 10. Pembelajaran Sepanjang Hayat

Terakhir, pembelajaran abad ke-21 mendorong peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di dunia yang terus berubah, kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan berkembang secara terus-menerus adalah kunci keberhasilan.

       Dengan mengintegrasikan elemen-elemen tersebut, pembelajaran abad ke-21 mewujudkan profil pelajar Pancasila harus menggambarkan sikap saling menghargai, gotong royong, dan semangat untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat dan mencerminkan individu yang memiliki moral yang kuat, bersedia berkorban untuk kepentingan yang lebih besar, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan membangun generasi penerus yang kokoh dalam identitasnya sebagai bangsa Indonesia dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat global.

 

Referensi

         Maulida, H. (2023). Pancasila Sebagai Fondasi Pendidikan Indonesia dan Relevansinya dengan Kurikulum Merdeka.

          Satria, R., Pia, A., Kandi, S.W., dan Tracey, Y.H. 2022. Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia

           Sugiarta, I. M., dkk. (2019). "Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timur)". Jurnal Filsafat Indonesia. 2 (3): 130. ISSN 2620-7982.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Capaian Pembelajaran PKL

Rencana Tindak Lanjut

Refleksi Coaching Untuk Supervisi Akademik